o'clock

Rabu, 26 September 2012

MAKALAH KANKER SERVIKS

                                                     
Nama kelompok:
1. Adit Desiyanti Akhiryani
2. Sukmawati Sagita Putri
3. Maria Maltida Ampolo
4. Nolly Vianelda Snae


MAKALAH KANKER SERVIKS
KATA PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan kepada Hadirat Illahi Robbi karena berkat rahmat dan karunia-Nya kami dapat menyelesaikan makalah ini. Salawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada suri tauladan sepanjang zaman Rasullulah SAW. Kami ucapkan juga terimakasih kepada dosen yang membimbing kami dalam pembuatan makalah ini.
Adapun tujuan pembuatan makalah ini selain untuk memenuhi tugas mata kuliah Bahasa Indonesia, juga membahas mengenai kanker servik.
Dalam pembuatan makalah ini tentunya masih banyak kekurangan dan kesalahannya, oleh karena itu kami sangat mengharapkan saran yang bersifat membangun dari semua pihak dan semoga makalah ini bermanfaat.
                                                                                                           
Pare, 13 Desember 2011
Penyusun





BAB 1
PENDAHULUAN
1.1Latar Belakang
            Upaya pemberantasan penyakit menular dan tidak menular merupakan salah satu program dalam rangka menciptakan keadaan kesehatan individu, keluarga dan masyarakat yang mencapai derajat kesehatan yang seoptimal-optimalnya.Terjadinya perubahan gaya hidup sebagai dampak dari transisi demografi merupakan tantangan terhadap upaya pemberantasan penyakit menular dan penyakit tidak menular.                                                                                    
            Penyakit tidak menular adalah penyakit yang tidak disebabkan oleh kuman, tetapi disebabkan karena adanya problem fisiologis atau metabolisme pada jaringan tubuh manusia. Penyakit-penyakit tersebut contohnya ialah; batuk, sariawan, sakit perut, dan sebagainya.
            Penyakit menular adalah penyakit yang disebabkan oleh kuman yang menjangkiti tubuh manusia. Kuman dapat berupa virus, bakteri, amuba, atau jamur.Dan kanker servik adalah  salah satu contoh penyakit menular yang disebabkan oleh beberapa tipe dari virus yang disebut Human Papilloma Virus (HPV).
            Kanker leher rahim adalah kanker yang terjadi pada servik uterus, suatu daerah pada organ reproduksi wanita yang merupakan pintu masuk ke arah rahim yang terletak antara rahim (uterus) dengan liang senggama (vagina). Kanker ini biasanya terjadi pada wanita yang telah berumur, tetapi bukti statistik menunjukan bahwa kanker leher rahim dapat juga menyerang wanita yang berumur antara 20 sampai 30 tahun. Layaknya semua kanker, kanker leher rahim terjadi ditandai dengan adanya pertumbuhan sel-sel pada leher rahim yang tidak lazim (abnormal). Tetapi sebelum sel-sel tersebut menjadi sel-sel kanker, terjadi beberapa perubahan yang dialami oleh sel-sel tersebut.                                                                                   
            Menurut Siregar (2002),kanker leher rahim merupakan kanker kedua terbanyak ditemukan pada wanita di dunia. Kurang lebih 500.000 kasus baru kanker leher rahim terjadi tiap tahun dan tiga perempatnya terjadi di negara berkembang. Kanker servik uteri atau leher rahim ini menduduki peringkat utama dan merupakan penyebab kematian tertinggi pada kasus kanker yang menyerang wanita di Indonesia. Data departemen kesehatan menunjukkan hingga kini jumlah penderitanya mencapai 50 per 100.000 penduduk. Oleh sebab itu diperlukan upaya maksimal dalam rangka penanggulangan terhadap kejadian kanker servik yang mencakup upaya promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif.
Judul makalah ini sengaja dipilih karena menarik perhatian penulis untuk dicermati dan perlu mendapat dukungan dari semua pihak yang peduli terhadap dunia kesehatan,yang salah satu tujuannya adalah untuk memberikan informasi tentang kanker servik serta upaya pencegahan dan pengobatannya.




1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang tersebut dan yang bertujuan memberikan informasi tentang kanker servik, maka masalah-masalah yang dibahas dapat dirumuskan sebagai berikut :
v  Apa yang dimaksud dengan kanker servik?
v  Bagaimana gejala kanker servik?
v  Beban apa yang terjadi pada penderita bila sudah terkena kanker serviks?
v  Apa tanda-tanda fase pra kanker servik?
v  Apa penyebab kanker servik?
v  Dampak apa saja yang ditimbulkan oleh kanker servik?
v  Mengapa perempuan beresiko terkena kanker servik?
v  Faktor-faktor apa saja yang meningkatkan risiko terkena kanker servik?
v  Bagaimana upaya pencegahan kanker servik?
v  Bagaimana upaya pengobatan kanker servik?
1.3 Tujuan
ü  Untuk mengaplikasi dan mengidentifikasi tentang kanker servik
ü  Memberikan informasi tentang gejala dan bahaya kanker servik
ü  Untuk mengetahui upaya pencegahan kanker servik.
ü  Memberikan informasi tentang upaya pengobatan pada penderita kanker servik.



BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Kanker Servik
Serviks merupakan bagian bawah dari rahim, suatu tempat di mana bayi tumbuh selama kehamilan. Kanker serviks disebabkan oleh beberapa tipe dari virus yang disebut Human Papilloma Virus (HPV). Virus ini dapat menyebar melalui kontak seksual. Secara umum, tubuh wanita dirancang untuk melawan virus jenis ini, tetapi pada beberapa kasus, virus ini menyebabkan kanker.
Kanker serviks merupakan pertumbuhan dari suatu kelompok sel yang tidak normal pada serviks (leher rahim).
Perubahan ini biasanya memakan waktu beberapa tahun sebelum berkembang menjadi kanker. Oleh sebab itu sebenarnya terdapat kesempatan yang cukup lama untuk mendeteksi apabila terjadi perubahan pada sel serviks melalui skrining (papsmear atau IVA) dan menanganinya sebelum menjadi kanker serviks.
Kanker servik adalah pertumbuhan sel bersifat abnormal yang terjadi pada servik uterus, suatu daerah pada organ reproduksi wanita yang merupakan pintu masuk ke arah rahim yang terletak antara rahim (uterus) dengan liang senggama (vagina) (Riono, 1999).
Kanker serviks ataupun lebih dikenali sebagai kanker leher rahim adalah tumor ganas yang tumbuh di dalam leher rahim /serviks yang merupakan bagian terendah dari rahim yang menempel pada puncak vagina. Pada penderita kanker serviks terdapat sekelompok jaringan yang tumbuh secara terus- menerus yang tidak terbatas, tidak terkoordinasi dan tidak berguna bagi tubuh, sehingga jaringan disekitarnya tidak dapat berfungsi dengan baik (Sarwono, 1996).
2.2 Gejala kanker servik
Kebanyakan infeksi HPV dan kanker serviks stadium dini berlangsung tanpa menimbulkan gejala sedikitpun sehingga penderita masih dapat menjalani kegiatan sehari-hari. Namun, jika dilakukan pemeriksaan deteksi dini dapat ditemukan adanya sel-sel serviks yang tidak normal yang disebut juga sebagai lesi prakanker.
Bila kanker sudah mengalami progresifitas atau stadium lanjut maka gejala-gejala yang dapat timbul antara lain:
1. Pendarahan setelah senggama.
2. Pendarahan spontan yang terjadi antara periode menstruasi rutin.
3. Timbulnya keputihan yang bercampur dengan darah dan berbau.
4. Nyeri panggul dan gangguan atau bahkan tidak bisa buang air kecil.
5. Nyeri ketika berhubungan seksual.
2.3 Tanda-tanda fase pra kanker servik
v  Keputihan atau keluar cairan encer dari vagina
v  Pendarahan setelah senggama yang kemudian berlanjut menjadi pendarahan
v  dapat bercampur dengan darah.
v  Timbul gejala-gejala anemia bila terjadi pendarahan kronis.
v  Timbul nyeri panggul (velvis) atau diperut bagaian bawah bila ada radang panggul. Pada fase invasif dapat keluar cairan berwarna kekuning-kuningan, berbau dan pada stadium lanjut, badan menjadi kurus kering karena kurang gizi, bengkak kaki, timbul iritasi kandung kencing dan poros usus besar bagian bawah (rektum).
2.4 Penyebab kanker servik
Ø  Penyebab utamanya adalah virus yang disebut Human Papilloma (HPV) yang dapat menyebabkan kanker.
Ø  HPV 16 dan 18 secara bersama mewakili 70% penyebab kanker serviks.
Ø  Biasanya sebagian besar infeksi akan sembuh dengan sendirinya namun kadang bisa menjadi infeksi persisten yang dapat berkembang menjadi kanker serviks.
Yang perlu diketahui mengenai virus HPV:
Ø  HPV dapat ditularkan melalui hubungan seksual
Ø  Penularan dapat juga terjadi meski tidak melalui hubungan seksual.
Ø  HPV dapat bertahan dalam suhu panas.
2.5 Beban pada penderita kanker servik jika sudah terjadi
Tindakan pengobatan atau terapi sangat bergantung pada stadium kanker serviks saat didiagnosis. Dikenal beberapa tindakan (modalitas) dalam tata laksana kanker serviks antara lain:
v  Tindakan bedah (surgical treatment).
v  Radioterapi (metode penyinaran yang menggunakan sinar x).
v  Kemoterapi (metode pengobatan yang bertujuan untuk membunuh sel-sel kanker dengan cara merusak dan menghambat faktor-faktor pertumbuhan sel).
v  Terapi paliatif (supportive care) yang lebih difokuskan pada peningkatan kualitas hidup pasien. Contohnya: makan makanan yang mengandung nutrisi, pengontrol sakit (pain control).
2.6 Dampak yang bisa ditimbulkan oleh kanker servik
Kanker serviks berdampak negatif terhadap kehamilan, persalinan, dan nifas. Dampak negatif tersebut yakni terjadinya kemandulan, abortus akibat infeksi, perdarahan, ketuban pecah dini, inersia uteri, dan hambatan pertumbuhan janin di dalam rahim karena terhambat oleh pertumbuhan kanker.
2.7 Perempuan beresiko terkena kanker servik                                                                              
Setiap perempuan berisiko terkena HPV penyebab kanker serviks dalam masa hidupnya tanpa memandang usia, latar belakang dan gaya hidup. Setiap perempuan berisiko karena:
Ø  Biasanya sebagian besar infeksi akan sembuh dengan sendirinya. Mereka yang mengalami infeksi persisten jarang menunjukan gejala pada stadium awal, dan biasanya berkembang menjadi kanker serviks beberapa tahun kemudian.
Ø  Setelah infeksi HPV, tubuh kita tidak dapat selalu membentuk kekebalan, maka kita tidak terlindungi dari infeksi berikutnya.
2.8 Faktor-faktor yang meningkatkan risiko terkena kanker servik                                                      Ada beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko terjadinya kanker serviks adalah :
v  Hubungan Seks pada usia muda atau pernikahan pada usia muda. Semakin muda seorang perempuan melakukan hubungan seks, semakin besar risikonya untuk terkena servik.
v  Berganti-ganti pasangan seksual.
Perilaku seksual berupa berganta-ganti pasangan seks akan meningkatkan penularan penyakit kelamin. Penyakit yang ditularkan seperti infeksi human papilloma virus (HPV) telah terbukti dapat meningkatkan kanker servik, penis dan vulva.
v  Merokok
Wanita perokok memiliki risiko 2 kali lebih besar terkena kanker servik dibandingkan dengan wanita yang tidak merokok.
v  Defisiensi zat gizi
Defisiensi asam folat meningkatkan risiko terjadinya displasia ringan dan sedang serta mungkin juga meningkatkan resiko terjadinya kanker servik pada wanita yang makanannya rendah beta karoten dan retionol ( vitamin A)
v  Trauma
v  Kronis pada Servik seperti persalinan, infeksi dan iritasi menahun
v  Sering melahirkan.
Kanker serviks juga sering terjadi pada wanita yang sering melahirkan, apalagi jarak antara kelahiran yang satu dengan yang lain terlampau dekat,
v  Kanker serviks jarang terjadi pada perawan, tetapi sering dialami oleh wanita yang bersenggama pertama kali di usia muda, yaitu wanita yang “kawin” saat usia di bawah 16 tahun.
v  kanker serviks lebih sering terjadi pada wanita yang keadaan ekonominya rendah, tingkat kebersihan daerah kewanitaannya jelek, perilaku seksualnya terlalu berlebihan (terlalu sering bersenggama atau berganti-ganti pasangan), suaminya tidak sirkumsisi (sunat), keadaan klinisnya yang jelek (seperti terjangkit infeksi virus HPV tipe 16 dan 18), dan kebiasaannya (merokok dan mengkonsumsi pil KB dalam jangka waktu lama, misalnya).
2.9 Upaya pencegahan kanker servik
v  Kanker serviks pada mulanya tidak menyebabkan gejala, namun kemudian, seorang wanita dapat merasakan nyeri panggul dan perdarahan dari vagina. Membutuhkan waktu yang cukup lama untuk membuat sel-sel normal pada serviks menjadi sel-sel kanker.Oleh karena itu, pemeriksaan secara dini seperti Pap Smears seharusnya dilakukan. Dengan pemeriksaan ini, sel-sel serviks dapat diamati di bawah mikroskop untuk melihat apakah sel tersebut normal atau beranjak ke arah sel kanker. Dengan demikian, pemeriksaan dini merupakan salah satu cara mencegah terjadinya kanker serviks.
v  Kanker serviks dapat dicegah dengan meningkatkan kebersihan kewanitaan (membersihkan vagina dari depan ke belakang dan sering mengganti celana dalam, misalnya), mencegah penggunaan antiseptik vagina yang berlebihan karena dapat mempengaruhi pH dan mikroorganisme normal di vagina, mengkonsumsi makanan bergizi supaya sistem imun terjaga, menghindari pernikahan yang terlalu muda, menghindari perilaku seks yang berlebihan (seperti berganti-ganti pasangan dan terlalu sering melahirkan), mencegah kebiasaan merokok, dan melakukan cek rutin sel-sel serviks dengan Pap Smears. Selain itu, cara lain seperti mengikuti vaksin HPV juga sering disarankan meskipun masih ada pihak yang menganggapnya kontroversi karena berbagai dampak yang ditimbulkan vaksin tersebut.
v  Penggunaan kondom saat berhubungan seks dapat membantu pencegahan penularan penyakit infeksi menular seperti Gonorrhoe, chlamydia, sifilis dan HIV /AIDS
v  Menghindari merokok, meningkatkan derajat kesehatan secara umum dan mencegah CIN (Cervical Intraepitelial Neoplasia) dan kanker leher rahim
v  Menghindari pencucian vagina
Sering kita melakukan pencucian vagina dengan obat-obatan antiseptik tertentu. Alasannya beragam, entah untuk "kosmetik" atau kesehatan. Padahal, kebiasaan mencuci vagina bisa menimbulkan kanker serviks, baik obat cuci vagina antiseptik maupun deodoran. "Douching atau cuci vagina menyebabkan iritasi di serviks.
v  Pemberian vaksin (antigen) yang dapat merangsang pembentukan imunitas (antibody) dari sistem imun didalam tubuh.
v  Vaksinasi merupakan pencegahan Primer.
v  Kanker serviks dapat dikenali pada tahap pra kanker, yaitu dengan cara melakukan antara lain pemeriksaan SKRINING, artinya melakukan pemeriksaan tanpa menunggu keluhan. Beberapa medote skrining telah dikenal, yaitu antara lain: PAP SMEAR dan IVA. PAP SMEAR Kanker serviks dimulai dari tahap pra kanker. Jika kanker dapat ditemukan pada tahap awal ini, akan dapat disembuhkan dengan sempurna.
v  Pemeriksaan PAP SMEAR adalah cara untuk mendeteksi dini kanker serviks. Pemeriksaan ini dilakukan dengan cepat, tidak sakit, dengan biaya yang relatif terjangkau dan hasilnya akurat. Kapan melakukannya? Pemeriksaan PAP SMEAR dilakukan kapan saja, kecuali pada masa haid atau sesudah petunjuk dokter. Bagi perempuan yang sudah menikah atau sudah melakukan hubungan seksual, lakukanlah pemeriksaan PAP SMEAR setahun sekali. Segera mungkin melakukan pemeriksaan PAP SMEAR dan jangan menunggu sampai timbul gejala.
v  Bagaimana pemeriksaan dilakukan? Pemeriksaan PAP SMEAR dilakukan di atas kursi periksa kandungan oleh dokter atau bidan yang sudah dilatih, dengan menggunakan alat untuk membantu membuka kelamin wanita. Ujung leher diusap dengan spatula untuk mengambil cairan yang mengandung sel-sel dinding leher rahim. Usapan ini kemudian diperiksa jenis sel-selnya di bawah mikrosop. Apabila hasil pemeriksaan posirif (terdapat sel-sel yang tidak normal), harus segera dilakukan pemeriksaan lebih lanjut dan pengobatan oleh dokter ahli kandungan.Tes ini aman dan mudah, dan hanya perlu beberapa menit saja. Semua perempuan usia 25-64 tahun yang pernah melakukan hubungan seks dianjurkan melakukan tes pengambilan sel kulit secara teratur. Perempuan yang tidak dalam rentang usia ini perlu berkonsultasi dengan dokter tentang perlu tidaknya menjalani pengambilan sel kulit leher rahim. Perempuan yang belum pernah melakukan hubungan seks atau telah mengalami pengangkatan rahim (hysterectomy) tidak perlu melakukan tes ini.
2.10 Upaya pengobatan kanker servik
Seperti pada kejadian penyakit yang lain, jika perubahan awal dapat dideteksi seawal mungkin, tindakan pengobatan dapat diberikan sedini mungkin. Jika perubahan awal telah diketahui pengobatan yang umum diberikan adalah dengan:
v  Pemanasan, diathermy atau dengan sinar laser.
v  Operasi, yaitu dengan mengambil daerah yang terserang kanker, biasanya uterus beserta leher rahimnya.
v  Radioterapi yaitu dengan menggunakan sinar X berkekuatan tinggi yang dapat dilakukan secara internal maupun eksternal.








BAB III
PENUTUP
3.1 KESIMPULAN
Kanker serviks (kanker leher rahim) adalah tumbuhnya sel-sel tidak normal pada leher rahim. Ada beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko terjadinya kanker serviks antara lain sebagai berikut:
Ø  Hubungan Seks pada usia muda atau pernikahan pada usia muda.
Ø  Berganti-ganti pasangan seksual.
Ø  Defisiensi zat gizi
Ø  Sering melahirkan.
Ø  Trauma                               
Ø  Kronis pada Servik seperti persalinan, infeksi dan iritasi menahun
Adapun gejala yang sering timbul pada stadium lanjut antara lain adalah:
Ø  Pendarahan sesudah melakukan hubungan intim.
Ø  Keluar keputihan atau cairan encer dari kelamin wanita.
Ø  Pendarahan sesudah mati haid (menopause).
Ø  Pada tahap lanjut dapat keluar cairan kekuning-kuningan, berbau atau bercampur darah, nyeri panggul atau tidak dapat buang air kecil.
Akan tetapi kanker serviks juga dapat dicegah dan diobati.
Upaya pencegahan pada kanker serviks antara lain sebagai berikut:
Ø  Kanker serviks dapat dicegah dengan meningkatkan kebersihan kewanitaan
Ø  Penggunaan kondom saat berhubungan seks
Ø  Menghindari merokok
Ø  Menghindari pencucian vagina dengan obat-obatan antiseptik tertentu
Ø  Pemberian vaksin (antigen)
Ø  Pemeriksaan PAP SMEAR adalah cara untuk mendeteksi dini kanker serviks.
Upaya pengobatan pada kanker serviks antara lain sebagai berikut:
Ø  Pemanasan, diathermy atau dengan sinar laser.
Ø  Operasi, yaitu dengan mengambil daerah yang terserang kanker, biasanya uterus beserta leher rahimnya.
Ø  Radioterapi yaitu dengan menggunakan sinar X berkekuatan tinggi yang dapat dilakukan secara internal maupun eksternal

3.2 SARAN
Pesan yang perlu diingat:
Ø  Untuk melakukan skrining kanker serviks, jangan sampai menunggu adanya keluhan.
Ø  Datanglah ke tempat periksa untuk pemeriksaan PAP SMEAR/IVA.
Ø  Jika ditemukan kelainan pra kanker ikutilah pesan petugas/dokter. Apabila perlu pengobatan, jangan ditunda. Karena pada tahap ini tingkat
kesembuhannya hampir 100%.



DAFTAR PUSTAKA

Doenges M., (2000), Rencana Asuhan Keperawatan, Edisi 3, EGC, Jakarta
Mansjoer, dkk, (2000), Kapita Selekta Kedokteran, Edisi 3, Jakarta.
Www.google.com.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar